Senin, 09 November 2020

MENANGKAP CAHAYA ILLAHI

Repost: Tasawuf Underground

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani qaddasallahu mmsirrahu memberi nasehat: “Butalah terhadap segala hal selain Allah. Tutuplah matamu terhadap sesuatu pun dari hal-hal tersebut. Jika engkau melihat sesuatu pun dari hal itu, maka karunia dan kedekatan Allah Azza wa Jalla akan tertutup bagimu.

Jadi, tutuplah segala hal dengan kesadaranmu akan keesaan Allah dan dengan kefanaan dirimu. Maka akan tampak oleh mata batinmu hal Allah Azza wa Jalla, dan engkau akan melihatnya dengan kedua mata batinmu ketika hal tersebut tersinari oleh cahaya kalbumu, cahaya imanmu, dan cahaya keteguhan keyakinanmu. 


Pada saat itu cahaya ruhanimu akan mewujud pada lahiriahmu, seperti cahaya sebuah pelita di malam pekat yang mencuat melalui lubang-lubangya, hingga sisi-sisi luar rumah menjadi tercerahkan oleh cahaya dari dalam. Lalu, diri dan anggota tubuhmu akan merasa ridha dengan janji Allah dan karunia-Nya.


Maka, kasihanilah diri kita. Jangan berbuat aniaya terhadapnya. Jangan campakkan ia ke dalam gelap ketidakpedulian dan kebodohanmu, agar ia tak melihat ciptaan, daya, perolehan, sarana dan tak tertumpu pada hal-hal semacam itu. Sebab, jika engkau melakukan hal itu, maka segala hal akan tertutup bagimu dan karunia Allah akan tertutup pula bagimu karena kesyirikanmu.


Jika engkau telah menyadari keesaan-Nya, telah engkau lihat karunia-Nya, engkau hanya berharap kepada-Nya dan telah kaubutakan dirimu terhadap segala sesuatu selain-Nya, maka Dia akan membuatmu dekat dengan Diri-Nya, Dia akan mengasihimu, menjagamu, memberimu makan, minumu dan merawatmu. Dia juga akan membuat bahagia, menganugerahi karunia-karunia, menolong seluruh masalahmu, menjadikan dirimu sebagai penguasa atas dirimu sendiri dan membuatmu fana hingga engkau tak akan melihat kemiskinanmu ataupun kekayaanmu.”


--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Adab As-Suluk wa At-Tawassul ila Manazil Al-Muluk

Rabu, 19 Agustus 2020

Akhir Perjalanan...


Mengenakan Toga Saat Menerima Ijazah

Tidak banyak orang tau bahwa setelah lulus kuliah S-2 di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Kota Kembang, Guru saya berkata, "sanggup nggak untuk lanjut ke S-3?", saya langsung bilang, "sanggup, tapi di Jakarta saja supaya dekat dan bisa cepat selesai". Sekolah dengan biaya sendiri saya anggap sebagai sebuah amanah untuk mengharumkan Surau kami, dan ada semacam quote motivasi yang diajarkan ke kami, yaitu, "BERJUANGLAH SEBAGAI PENGABDI". 

Tidak merasa bangga dan jumawa dengan predikat Doktor, justru ini sebuah awal perjalanan hidup dalam mengabdikan diri bagi dunia pendidikan.

Tuhan... Terimakasih atas segala kemudahan yang Engkau berikan kepada saya. Diawal studi saya memiliki target maksimum lima tahun menyelesaikan studi, namun apa daya. 7 tahun lebih akhirnya baru mencapai  garis finish itu...

Berjuanglah sebagai pengabdi. Hanya itu yang jadi motivasi diri untuk mengabdi pada Sang Khalik. Hanya segelintir orang yang memahami arti sebuah pengabdian, tapi bagi kami dan keluarga kecil kami, dengan lulusnya saya sebagai seorang doktor, menjadi sebuah kesempatan...dan bukan pembuktian. Bahwasanya, sebagai murid, wajib hukumnya untuk berabdi kepada GURU.  Izinkan saya ikut berjuang mengagungkan AsmaNYA, berikan saya kesempatan untuk mengabdi. 

Doktor hanyalah sebuah gelar akademis di dunia, yang tentu saja masih banyak kekurangan. Namun, janganlah gelar itu dijadikan cemoohan atau pun hinaan...

Berikhtiar untuk selalu menyertakanMU di setiap langkah saya....

Senin, 25 Mei 2020

Lebaran di Masa Pandemi Covid19

 

Lebaran kali ini akan jadi sejarah dalam kehidupan kita dan anak-anak kita. Kerinduan berkumpul bersama keluarga dan sanak saudara, berjabat tangan, bersalam-salaman, antri untuk sungkeman, berbaris bergantian demi untuk mendapatkan  amplop THR bagi anak-anak kita, berkeliling mengunjungi tetangga terdekat, dan masih banyak lagi kebiasaan dan tradisi di tempat kita tentunya. Itu semua akan jadi cerita untuk anak cucu kita kelak. 10 ataupun 20 tahun kemudian, kita akan bercerita kepada cucu-cucu kita bahwa Lebaran di rumah saja.

Fatwa MUI pada Lebaran tahun ini, 1 Syawal 1441 H adalah melakukan sholat Ied di rumah saja bersama anggota keluarga. Itu dikeluarkan untuk memutus mata rantai penyebaran virus Corona. Namun ada beberapa tempat melakukan sholat Ied dengan tetap mematuhi protokol kesehatan, dengan tetap menjaga jarak, menggunakan masker, dan cuci tangan.

Bagi saya dan keluarga, Alhamdulillah untuk melaksanakan sholat Iedul Fitri di rumah saja bersama keluarga bukan hal baru. Kami sangat beruntung memiliki Guru yang banyak mengajarkan tentang banyak hal dalam menjalani hidup, kesederhanaan, ketidak mubaziran dalam menyambut Lebaran dan juga termasuk salah satunya adalah tentang pelaksanaan sholat Iedul Fitri. Sudah hampir tujuh tahun kami melakukan sholat Iedul Fitri di surau kecil kami, di kawasan Cilandak Jakarta Selatan. Alhamdulillah...bagi suami, menjadi Imam sholat Iedul Fitri bukanlah hal yang baru baginya.

Sekitar jam 7 pagi setelah menjalankan beberapa sunah sebelum melakukan sholat, suami mempersiapkan laptop yang berisi rekaman khutbah Guru kami. Tiba saatnya sholat. Secara umum, syarat dan rukun sholat Ied tidak berbeda dengan sholat fardhu, termasuk perihal yang membatalkan sholat.
 
Sholat Ied dilakukan dua rakaat. Rakaat pertama dilakukan dengan tujuh kali takbir setelah Takbiratul Ihram dan doa Iftitah, dan melantunkan dzikir diantara takbir. Selanjutnya lima kali takbir pada rakaat kedua.

Selesai sholat, kami mendengarkan khutbah dari laptop yang sudah disiapkan sebelumnya. Sunyi...seolah semesta mendukung, kami mendengarkan dengan khusyu Fatwa Ayahanda Guru kami, tak terasa, perlahan menetes air mata ini ketika mendengar doa-doa Ayahanda Guru, tak kuasa dada ini berguncang, airmata mengalir semakin deras mendengar doa-doa Ayahanda Guru yang diantaranya dijauhkannya kami, anak-anak AYAH dari segala macam penyakit. Masya ALLAH, rekaman Fatwa Ayahanda Guru tak lekang ditelan waktu. Fatwa yang disampaikan Ayahanda Guru pada sholat Iedul Fitri entah tahun kapan, betul-betul seperti nyata kami rasakan. 

ALLAHU AKBAR...
ALLAHU AKBAR...
ALLAHU AKBAR WALILLAHILHAMD... 
Sembah Sujud kami Keharibaan Ayahanda Guru, kami mohonkan untuk selalu senantiasa melindungi kami dimasa Pandemi Covid19 ini. (1 Syawal 1441H/24 Mei 2020)*