Lebaran kali ini akan jadi sejarah dalam kehidupan kita dan anak-anak kita. Kerinduan berkumpul bersama keluarga dan sanak saudara, berjabat tangan, bersalam-salaman, antri untuk sungkeman, berbaris bergantian demi untuk mendapatkan amplop THR bagi anak-anak kita, berkeliling mengunjungi tetangga terdekat, dan masih banyak lagi kebiasaan dan tradisi di tempat kita tentunya. Itu semua akan jadi cerita untuk anak cucu kita kelak. 10 ataupun 20 tahun kemudian, kita akan bercerita kepada cucu-cucu kita bahwa Lebaran di rumah saja.
Fatwa MUI pada Lebaran tahun ini, 1 Syawal 1441 H adalah melakukan sholat Ied di rumah saja bersama anggota keluarga. Itu dikeluarkan untuk memutus mata rantai penyebaran virus Corona. Namun ada beberapa tempat melakukan sholat Ied dengan tetap mematuhi protokol kesehatan, dengan tetap menjaga jarak, menggunakan masker, dan cuci tangan.
Bagi saya dan keluarga, Alhamdulillah untuk melaksanakan sholat Iedul Fitri di rumah saja bersama keluarga bukan hal baru. Kami sangat beruntung memiliki Guru yang banyak mengajarkan tentang banyak hal dalam menjalani hidup, kesederhanaan, ketidak mubaziran dalam menyambut Lebaran dan juga termasuk salah satunya adalah tentang pelaksanaan sholat Iedul Fitri. Sudah hampir tujuh tahun kami melakukan sholat Iedul Fitri di surau kecil kami, di kawasan Cilandak Jakarta Selatan. Alhamdulillah...bagi suami, menjadi Imam sholat Iedul Fitri bukanlah hal yang baru baginya.
Sekitar jam 7 pagi setelah menjalankan beberapa sunah sebelum melakukan sholat, suami mempersiapkan laptop yang berisi rekaman khutbah Guru kami. Tiba saatnya sholat. Secara umum, syarat dan rukun sholat Ied tidak berbeda dengan sholat fardhu, termasuk perihal yang membatalkan sholat.
Sholat Ied dilakukan dua rakaat. Rakaat pertama dilakukan dengan tujuh kali takbir setelah Takbiratul Ihram dan doa Iftitah, dan melantunkan dzikir diantara takbir. Selanjutnya lima kali takbir pada rakaat kedua.
Selesai sholat, kami mendengarkan khutbah dari laptop yang sudah disiapkan sebelumnya. Sunyi...seolah semesta mendukung, kami mendengarkan dengan khusyu Fatwa Ayahanda Guru kami, tak terasa, perlahan menetes air mata ini ketika mendengar doa-doa Ayahanda Guru, tak kuasa dada ini berguncang, airmata mengalir semakin deras mendengar doa-doa Ayahanda Guru yang diantaranya dijauhkannya kami, anak-anak AYAH dari segala macam penyakit. Masya ALLAH, rekaman Fatwa Ayahanda Guru tak lekang ditelan waktu. Fatwa yang disampaikan Ayahanda Guru pada sholat Iedul Fitri entah tahun kapan, betul-betul seperti nyata kami rasakan.
ALLAHU AKBAR...
ALLAHU AKBAR...
ALLAHU AKBAR WALILLAHILHAMD...
Sembah Sujud kami Keharibaan Ayahanda Guru, kami mohonkan untuk selalu senantiasa melindungi kami dimasa Pandemi Covid19 ini. (1 Syawal 1441H/24 Mei 2020)*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar